Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘wangi’

SINCE 1988, cafes have relied on our unique reputation in the art of roasting to draw coffee aficionados and
stay profitable. Ho Sen is perhaps the only coffee roaster brand which its “cup quality” is instantly recognized
by Malaysian café businesses and coffee lovers as a truly home-grown coffee company. Brewing Ho Sen’s
Ipoh white coffee, smallholder cafes serve approximately 28,000 cups of coffee to drinkers around Ipoh city
everyday.

This undoubtedly attest to the faith cafe owners have on us and the quality that has withstood the
test of time. Today, the company is run by the second generation of its founder and still believes in keeping
the company small and roasting its coffee fresh everyday in small batches to ensure all deliveries reach its
customers at peak flavour.

SECRETS OF IPOH WHITE COFFEE

AVERAGE Malaysian cafes serve coffee which is roasted in accordance to Kopi-O style where beans are
roasted very dark, laced with 60% burnt caramel (to further induce a “heavy bodied” taste and “blackness” to the brew) and adulterated with grounded wheat, oat, burned corn for cost cutting purposes. On supermarket shelves, this concoction it is labeled as “Kopi Campuran”. See picture 2.

For generations, Ipohites are always known to purvey a finer delicate taste for their food and beverages. This is well depicted in Ipoh’s coffee. Ipohites prefer the clean natural taste of unadulterated coffee and insist coffee should always be brewed from 100% coffee beans roasted to a lighter degree (hence giving the expression “white”) producing a brew that is heavenly intense in aroma and pure in coffee taste.

Ipoh White Coffee is made  from roasted coffee beans of a secret blend / recipe for that special Ipoh
traditional flavour

Read Full Post »

Kopi Luwak

Kopi Luwak adalah seduhan kopi menggunakan biji kopi yang diambil dari sisa kotoran luwak/musang kelapa. Biji kopi ini diyakini memiliki rasa yang berbeda setelah dimakan dan melewati saluran pencernaan luwak. Kemasyhuran kopi ini di kawasan Asia Tenggara telah lama diketahui, namun baru menjadi terkenal luas di peminat kopi gourmet setelah publikasi pada tahun 1980-an. Biji kopi luwak adalah yang termahal di dunia, mencapai USD100 per 450 gram. 
Asal mula Kopi Luwak terkait erat dengan sejarah pembudidayaan tanaman kopi di Indonesia. Pada awal abad ke-18, Belanda membuka perkebunan tanaman komersial di koloninya di Hindia Belanda terutama di pulau Jawa dan Sumatera.[1] Salah satunya adalah bibit kopi arabika yang didatangkan dari Yaman. Pada era “Tanam Paksa” atau Cultuurstelsel (1830—1870), Belanda melarang pekerja perkebunan pribumi memetik buah kopi untuk konsumsi pribadi, akan tetapi penduduk lokal ingin mencoba minuman kopi yang terkenal itu. Kemudian pekerja perkebunan akhirnya menemukan bahwa ada sejenis musang yang gemar memakan buah kopi, tetapi hanya daging buahnya yang tercerna, kulit ari dan biji kopinya masih utuh dan tidak tercerna. Biji kopi dalam kotoran luwak ini kemudian dipunguti, dicuci, disangrai, ditumbuk, kemudian diseduh dengan air panas, maka terciptalah kopi luwak.[2] Kabar mengenai kenikmatan kopi aromatik ini akhirnya tercium oleh warga Belanda pemilik perkebunan, maka kemudian kopi ini menjadi kegemaran orang kaya Belanda. Karena kelangkaannya serta proses pembuatannya yang tidak lazim, kopi luwak pun adalah kopi yang mahal sejak zaman kolonial.
Gambar Kopi luwak asli 

Luwak, atau lengkapnya musang luwak, senang sekali mencari buah-buahan yang cukup baik dan masak termasuk buah kopi sebagai makanannya. Luwak akan memilih buah kopi yang betul-betul masak sebagai makanannya, dan setelahnya, biji kopi yang dilindungi kulit keras dan tidak tercerna akan keluar bersama kotoran luwak. Biji kopi seperti ini, pada masa lalu sering diburu para petani kopi, karena diyakini berasal dari biji kopi terbaik dan telah difermentasikan secara alami dalam perut luwak. Dan konon, rasa kopi luwak ini memang benar-benar berbeda dan spesial di kalangan para penggemar dan penikmat kopi.

Kopi Luwak yang diberikan oleh Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono kepada PM Australia, Kevin Rudd, pada kunjungannya ke Australia di awal Maret 2010 menjadi perhatian pers Australia karena menurut Jawatan Karantina Australia tidak melalui pemeriksaan terlebih dahulu. Pers menjulukinya dung diplomacy.

Read Full Post »